Connect with us

Feature

Review Lagu Lampu Merah Depok

Published

on

Depok, setelah sekian lama terkenal dengan kemacetan di Jalan Margonda Raya dan tumpukan angkot yang bandel berhenti sembarangan, kini seolah ingin membuat image baru di mata masyarakat. Pemasangan lagu di lampu merah dipercaya bisa membuat para pengendara tidak stress, kata Pak Walikota KH M Idris Abdul Somad.

Walau menurut Adi Susila, seorang pengamat kebijakan publik dari Universitas Islam 45 Bekasi, usulan pemutaran lagu di lampu merah Depok tersebut tidak mempunyai target dan tujuan yang jelas. Dilansir dari Kompas.com, Adi mengatakan, “targetnya tidak jelas, kalau memang buat sosialiasi berarti ini lebih buat ke kendaraan motor saja. Karena lagunya pun pasti tidak terdengar sama yang menggunakan mobil, (sementara) kalau targetnya menghibur tidak tepat karena kalau macet ya harusnya tidak dihibur, harusnya dicari cara supaya tidak macet.”

Terlepas dari pro kontra ini, akun YouTube Dishub Depok sempat kedapatan mengunggah sebuah lagu berdurasi 2 menit lebih, dengan detail bahwa lagu ini diciptakan oleh Koko Thole dan dinyanyikan langsung oleh Pak Walikota. Unggahan ini sendiri dihapus kemudian, walau sudah banyak diunduh oleh warganet dan diunggah kembali.

Karena itu, Wananow di sini akan membuat review singkat pada lagu berjudul “Hati-hati” tersebut. Perlu diingat, Wananow mendengarkan versi unggahan ulang warganet sehingga sangat mungkin terjadi penurunan kualitas suara.

Mari kita mulai,

Lagu dibuka dengan intro bunyi piano midi yang dengan jelas memperlihatkan tidak adanya usaha memilih sound yang lebih modern di sini. Padahal ada banyak opsi suara yang bisa membuat lagu ini lebih kekinian. Bunyi tamborin yang diberikan juga terdengar monoton.

Begitu masuk ke bait pertama lagu, suara Pak Walikota terdengar terburu-buru dengan ketukan bas yang cukup padat. Ah, sayang sekali masih menggunakan midi. Jika saja menggunakan gitar bas sungguhan, Wananow cukup yakin lagu ini akan lebih bernyawa.

Karena ditujukan untuk dinyanyikan selama menunggu lampu merah, wajar jika lagu ini cenderung pendek dan banyak pengulangan. Empat baris bait pertama langsung menuju reffrein yang lagi-lagi diganggu bebunyian tamborin yang sangat monoton. Hei, tapi notasinya cukup dan akan menghantui kuping kamu selama beberapa hari ke depan setelah mendengarnya.

Sayangnya karena pilihan diksi yang dipaksa, bait pertama dan kelima reffrein lagu ini membuat pemenggalan suku kata yang kurang pas. Dengarkan bagaimana kata “Berhenti” diucapkan “Brenti”, juga kata “menyeberang” yang dipangkas ucap jadi “nyebrang”. Niatan membuat lagu ini lebih modern semakin musnah ketika mendengar suara latar yang ditinggikan sedikit dari nada aslinya, khas pop Indonesia tahun 80an.

Wananow sempat terkejut mendengarkan niat baik pencipta lagu memasukkan unsur rap setelah reffrein. Lagi-lagi, bagian ini bisa diperbaiki dengan menggunakan gitar bas dengan teknik bass-slap khas funk. Thomas Ramdhan dari Gigi mungkin bisa bantu?

Pak Walikota, sedikit saran saja, bagaimana kalau lagu ini diperbaiki dengan dibuat lebih modern, sehingga niatan mulia Bapak menghibur para pengendara yang stress kena macet, bisa benar menghibur mereka, bukan malah berakhir dengan tingginya angka penggunaan earphone di pengendara motor di Kota Depok.

Hati-Hati

Cipt: Koko Thole
Penyanyi: KH M Idris Abdul Somad

Hati-hati di jalanan, jangan ugal-ugalan
Bila naik kendaraaan jangan kebut-kebutan
Jangan sampai orang bilang engkau pengganggu jalan
Seperti orang bingung tak tau peraturan

Reff:
Lampu merah kita berhenti
Lampu kuning hati-hati
Lampu hijau jalan lagi
Ambil jalur sebelah kiri

Kalau nyebrang hati-hati tengok kanan tengok kiri
Rambu-rambu ditaati agar tidak salah lagi

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *